Jangan Suudzon

Nah, kadang apa yang ada dipikiran kita itu sama sekali nggak bisa kita atur. Apa sih yang membuat kalian itu sama sekali tidak bisa menggunakan pikiran yang baik-baik saja? Bukan sama sekali sih, tapi sering kali. Iya, sering kali mungkin kata yang tepat buat menggambarkan kebiasan kita yang selalu mengasumsikan skenario terburuk dalam segala hal.

Padahal, apa enaknya sih selalu ber-negative thinking begitu? Nggak ada faedahnya sama sekali. Yang ada kita malah jadi stress sendiri dan depresi buta. Dan itu menyedihkan. Negative thinking hanya akan membuat kita menjadi takut akan hal-hal yang belum pasti bakalan berdampak buruk pada kita. Contohnya aja, kamu mau mempelajari bahasa Korea. Udah nyiapin budget buat ngambil kursus bahasa Korea, udah dapet tempat kursus yang enak dan prestigious. Tapi akhirnya kalian batalkan niat kalian untuk belajar bahasa baru karena udah negative thinking duluan, takut di-bully sama anak-anak kursus yang lebih duluan belajar disana. That’s just sad.

Negative thinking juga bakalan membawa dampak yang nggak sehat dalam hubungan percintaan – terutama yang lagi long distance relationship, asmara dua sejoli insan manusia yang berniat membangun sebuah rumah tangga yang sakinah ma waddah wa rohmah! Kenapa? Karena salah satu pasangan, atau mungkin malah dua-duanya, bakalan menaruh kecurigaan dan rasa ketidak percayaan sama pasangannya, dan sering kali tanpa alasan yang logis alias masuk di nalar manusia normal!

Misal nih, kalian lagi asyik mengerjakan sesuatu. Hobi misalnya, hobi apapun itu yang positif tentunya. Manusiawi dong kalo udah melakukan aktifitas kegemaran itu kita jadi lupa sama hal-perihal-perihal lain. Lupa makan, lupa mandi, lupa pipis, lupa beol, hingga lupa mengirimkan pesan ke yang terkasih disana melalui WhatsApp. Ini yang orang terkasih ini kadang, no, bukan kadang, seringkali suka berfikiran buruk duluan. Langsung curiga gak jelas gitu. Di curigain selingkuh lah, WhatsApp-an sama orang ketiga lah, di curigain sayangnya udah luntur lah, apalah, apalah, sampe di curigain lagi nonton video yang layak dikonsumsi pasangan yang udah menikah alias video praktek reproduksi manusia. Wat de hiil!

Padahal loh, lupa ngehubunginnya itu paling lama juga sejam-dua jam. Dicariinnya udah kayak anak balita hilang lima bulan tujuh hari! Belum lagi kalimat-kalimat di WhatsApp yang penuh dengan kata-kata panas se-panas api di kompor gas Hock. Jujur aja nih, kadang kalo udah dalam kondisi yang kayak begini aku juga malah jadi malas ngebalas chatnya si orang terkasih. Aku lebih memilih mending di-diemin aja dulu sampe hati sama pikirannya dingin dan bisa digunakan berpikir menggunakan nalar.

Loh? Kok bebebnya marah malah di-diemin, malah di cuekin? Huh kah, dasar cowok gak peka, gak romantis, dasar cowok wedus!

Eits, bukannya begitu masbro atau mbakbro. Ngeladenin orang yang sedang dibakar api kemarahan, apalagi marah yang menggunakan bahan bakar rasa kecurigaan alias negative thinking itu malah bikin kita yang sebenernya nggak marah juga ikut-ikutan kena bakar api amarahnya. Yang hasilnya bakalan jadi perang antara dua anak Adam yang sesungguhnya saling peduli dan cinta satu sama lain. Ujung-ujungnya bakalan ada resiko kerusakan hubungan yang susah, bahkan tidak bisa diperbaiki lagi. Nah, jadi mending di-diemin dulu, kan? Kamu aja kalo makan nasi klo nasinya masih ngepul panas gitu di-diemin, kan? Gak langsung dikunyah, palagi ngadepin makhluk tuhan yang namanya wanita.

Ya kamu ngasih kabar dong klo lagi ada kegiatan, biar yang disana gak curiga!

Nah, ini. Ini yang sebenernya bikin hubungan antar kekasih itu sebelas dua belas sama hubungan antara sipir sama narapidana. Gini loh, om, tante, encang, encing, nyak, dan babe. Ane mau tanya nih. Pernah nggak kalian-kalian pade kelupaan ngasih tau orang rumah pas kalian lagi mau keluar rumah misalnya? Pernah dong? Kenapa bisa lupa? Simple aje jawabannye. Karena kita tidak terbiasa sama rutinitas main lapor-laporan dulu sebelum melakukan sesuatu, karena kita tidak pernah dituntut buat lapor-lapor yang kaya begituan. Kok bisa nggak terbiasa? Lagi, jawabannye simple. Karena kita orang bukan residivis atau penghuni rumah tahanan yang setiap gerak-geriknya diawasin dua puluh empat jam. Jelas, kan? Lupa ngasih tau kita lagi sibuk atau lagi ada kegiatan begitu bukan berati kita ini nggak sayang atau udah nggak peduli lagi, cuman masalah nggak terbiasa aja neng. Sumpah deh.

Hem, terus gimana dong caranya biar nggak negative thinking melulu?

Tanamkan dalam diri rasa percaya sama si doski, mbakyu. Mau hubungan jarak jauh, jarak dekat, atau pacaran via sambungan internet nirkabel juga rasa percaya sama pasangan itu adalah kunci utama kesuksesan dalam hubungan asmoro moyopodo. Dan juga neng, yang paling utama. Jangan lupa sama Dia yang punya kuasa membolak-balikkan hati manusia. Sering banget nih kita lupa sama faktor kuasa Ilahi dalam kelanggengan sebuah hubungan. Kita jadi suka menuhankan rasa curiga yang nggak ada dasarnya ketimbang menyerahkan urusan cinta sama yang diatas. Jangankan pacaran yang cuman setahun dua tahun, pasangan suami istri yang udah mengarungi bahtera rumah tangga puluhan tahun aja bisa tiba-tiba hadir di sidang perceraian gegara masalah negative thinking beginian.

Intinya itu, kita semua ini mesti lebih banyak ber-husnudzon alias ber-positive thinking aja dalam urusan apapun itu. Postive thinking pas kita lagi mau mencoba hal baru, membuka usaha baru, atau hidup dilingkungan baru. Apalagi ber-positve thinking dan percaya sama pasangan maupun calon pasangan hidup kita masing-masing, percaya yang emang bisa dibuktikan loh, ya. Bukan percaya buta yang emang udah jelas itu si pasangan ngebohong terus dianggukin aja. Dan yang lebih utama lagi, percaya sama keputusan Dia yang paling ahli dalam mengatur masalah rezeki, jodoh, dan maut. Karena cuman yang diatas-lah yang tau apa yang terbaik buat kamu, aku, dia, dan mereka.

Berdoa aja, semoga pasangan kalian yang sekarang ini merupakan pasangan yang terbaik dan bisa membimbing kalian menuju perkahwinan yang bikin malaikat-malaikat di surga pada jealous. Dan bagi kalian yang masih dalam status ‘calon’ pasangan, berdoa juga. Semoga dimudahkan dan disegerakan sama yang Maha Pencipta biar calon pasangan kalian bisa ngetok pintu rumah orang tua kalian sambil bilang, “Assalamualaikum, pak Haji. Permisi, aku permisi eyah. Sengajah aku datang kesini eyah, untuk melamar anak pak Haji”.

Advertisements

Let's Discuss!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s