Dosen Pehape

Kalo ngomongin soal skripsi, pasti para mahasiswa-mahasiswi yang udah cukup senior familiar sekali dengan problematika seperti njelimetnya mencari referensi, pemasukan data yang amburadul, dan bab-bab yang entah sudah berapa kali di-revisi tapi belum di-approve juga oleh dospem. Memang sih, masalah-masalah menyebalkan kayak gini sangat biasa dalam proses perampungan sebuah skripsi, tapi semua itu bisa kamu selesaikan apabila ada kemauan yang cukup kuat dari diri kamu sendiri untuk menyelesaikan skripsi secepat-cepatnya.

Nah, yang menjadi masalah sekarang adalah ketika keinginan kuatmu untuk secepatnya merampungkan tugas akhir tidak berbanding lurus dengan karakteristik dosen pembimbing yang terkesan pingin banget kamu lama-lama jadi penghuni kampus. Dan ini terjadi pada beberapa teman se-angkatan saya yang kebetulan berada dalam naungan seorang dosen sok sibuk, sebut saja nama beliau Pak Rafflesia Arnoldii. Pak Rafflesia ini masih terbilang dosen muda nan gemilang. Di umurnya yang baru sekitar 35 tahunan beliau sudah mengantongi gelar doctorate yang katanya sih hasil dari menimba ilmu di negeri kangguru, Australia. Namun sungguh disayangkan, seseorang yang sudah mengenyam bangku kuliah sampai punya embel-embel PhD di belakang namanya ternyata kurang menghargai istilah tepat waktu dan menepati janji.

Pak Rafflesia ini merupakan tipikal orang yang janji ketemu jam 8 pagi, tapi datengnya jam 4 sore, janji bimbingan hari senin, tapi masuk kantornya hari kamis, dan itu semua disertai dengan alasan-alasan yang mengesankan bahwa beliau adalah seorang super intelek yang kejeniusannya dibutuhkan banyak orang dari berbagai negara. Mungkin, anak bimbingnya masih bisa maklum apabila si bapak Rafflesia ini membatalkan janji diskusi sekali-dua kali. Namanya juga dosen udah S3, lulusan luar negeri lagi, pasti banyak agenda. Tapi, kalo udah 2 bulan lebih selalu nggak bisa diajak ketemu, ini yang perlu dipertanyakan. Kemana, kah, hilangnya bapak Rafflesia Arnoldii?

Ada beberapa teman yang berspekulasi bahwa saat beliau dalam perjalanan ke Amerika untuk menghadiri sebuah konferensi ilmiah, pesawat beliau di-bajak oleh kelompok militan Abu Sayyaf. Ada juga yang berpendapat bahwa beliau lagi iseng mau liburan ke Hawaii, tapi malah naik pesawat yang terbang ke Timbuktu, dan akhirnya beliau terkena sejenis penyakit kulit dan sedang dirawat di klinik spesialis penyakit panu disana. Ada juga yang bilang kalo sebenernya bapak Rafflesia Arnoldii itu adalah sejenis Pokemon, dan beliau menghilang karena lagi sibuk-sibuknya dilatih sama Pokemon Trainer-nya biar bisa cepet naik level dan berevolusi.

Emang sih, dari semua spekulasi mahasiswa-mahasiswi diatas nggak ada yang logis dan realistis. Tapi satu hal yang pasti, bapak Rafflesia Arnoldii ini memang benar-benar menyebalkan. Mungkin, kalo kamu lagi curhat perihal dosen pembimbing skripsi yang jadwalnya nggak keru-keruan sama orang tua, kakak, atau siapapun yang pernah mengenyam bangku kuliah dan ngerasain skripsi, mereka bakal bilang dengan santai, “itulah seninya dunia perkuliahan, dosen susah didatengin bukan karena gak peduli, tapi karena pengen menggembleng mental sekaligus menguji keseriusan kamu dalam mengerjakan tugas akhir.”

Kentut. Emang paling enak ngomong sok ngasih semangat. Mahasiswa itu nggak buta. Mahasiswa tau, mana dosen yang emang pingin menggembleng, mana dosen yang emang suka ngelupain kewajibannya buat membimbing calon-calon sarjana yang sudah mempercayakan keberhasilan tugas akhir mereka sama dosen yang dimaksud.

Nih contoh dosen yang emang mau mendidik mahasiswanya itu seperti bapak, sebut saja, Orchidus Mamentus. Bapak Orchidus ini galak, kalo revisi-an skripsi salahnya lebih dari 3, biasanya beliau bakal ngelempar lembaran draft ke lantai sambil ngebentak-bentak. Meskipun begitu, beliau selalu setia nongkrong ganteng di kantornya sehingga mahasiswa bimbingannya nggak perlu repot-repot kalo lagi ada yang perlu di-diskusikan. Kalau pun bapak Orchidus lagi nggak ada di kantornya, beliau selalu nitipin pesan ke sekretaris perihal status keberadaannya. Bapak Orchidus juga selalu on time. Senin sampe Jumat, kalo kamu termasuk mahasiswa yang selalu dateng ke kampus sebelum jam setengah delapan, kamu bakalan bisa ngelihat bapak Orchidus memarkir mobilnya di depan kantor tepat jam 8 pagi.

Coba bandingin sama bapak Rafflesia. Emang sih kalo ketemu orangnya manis, kalo ngasih arahan sambil senyum-senyum manja. Tapi kalo buat ketemu doang perlu nunggu sampe berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, kapan kelar skripsinya? Belum lagi kalo bab yang lagi digarap butuh perbaikan, mesti nunggu lagi ane? Itu juga kalo dihubungin melalui email ataupun langsung di SMS ke nomer handphone-nya, pasti nggak pernah dibales. Kalo ditanya kenapa nggak pernah bales, alesannya bisa dibilang se-level sama alesan ABG labil kalo lagi ditanyain pacarnya kenapa nggak bales-bales SMS, “Maaf, saya tidak bisa membalas pesan kalian karena handphone saya lagi di-charge.” Syedap, kan?

Walhasil, tidak ada satupun mahasiswa bimbingan bapak Rafflesia ini yang bisa lulus tepat 4 tahun masa kuliah. Bukan karena males, bukan karena penelitian yang membutuhkan waktu lama, bukan karena alasan tehnis lainnya. Tapi karena seorang dosen pembimbing yang entah kenapa sepertinya punya cita-cita untuk meningkatkan populasi mahasiswa tua di kampus tercinta. Mestinya, seorang dosen yang notabene merupakan tenaga pengajar tingkat advance bisa memberikan contoh yang baik bagi anak-anak didiknya. Meskipun sibuk, para mahasiswa yang berada dalam bimbingannya berhak mengetahui perihal kegiatan apa yang membuat beliau sangat susah untuk dihubungi, apalagi ditemui. Paling nggak seperti bapak Orchidus yang selalu meninggalkan memo yang dititipkan ke sekretarisnya kalau lagi meninggalkan tempat. Dengan begitu, mahasiswa-mahasiswi yang buru-buru pengen wisuda karena udah ngebet menikah pun nggak merasa ditelantarkan.

Mungkin Pak Rafflesia ini perlu dimutasi ke universitas di Timbuktu.

Advertisements

Let's Discuss!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s