Mas Sarwan Dan Nurul

“Bila nanti Nurul disembelih, aku minta dadanya.” Itulah kalimat yang keluar dari mulutku ketika mendengar mas Sarwani mengutarakan niatnya untuk memotong Nurul dalam waktu dekat ini. Mas Sarwani, adalah tetanggaku yang bisa dibilang antik. Dia adalah seorang pria berumur 28 tahun beristri empat beranak empat yang punya hobi memelihara ayam. Saking sukanya sama binatang jenis unggas ini, setiap ayam yang ada di kandang kecil di belakang rumahnya dikasih nama satu-satu. Namanya juga unik-unik, ada yang dikasih nama Nurul, Rajalaut, Athena, Mejikjar, sampai Politron.

“Enak aja! Dada itu bagian tubuh ayam yang paling favorit, kalo buat kamu sih aku kasih leher saja, ya?” Ujar mas Sarwani setengah marah setengah bercanda.

Aku cuman bisa nyengir. Mas Sarwani ini, kalo dipikir-pikir, adalah seorang pelopor yang luar biasa di kalangan peternak ayam. Mungkin di Indonesia, atau bahkan di seantero bumi, cuman mas Sarwani yang mau repot-repot ngasih nama ke ayam-ayamnya yang berjumlah hampir 40 ekor, belum lagi pilihan nama yang di ambilnya juga nggak kalah antiknya sama dia. Mulai dari nama umum masyarakat Indonesia seperti Nurul dan Siti, hingga nama dewa-dewi Pantheon penghuni gunung Olympus macam Zeus, Athena, dan Hera.

“Mas, ngomong-ngomong kenapa Nurul mau dipotong? Bukannya sampeyan sayang banget sama Nurul?” Tanyaku penasaran. Mas Sarwani selain dikenal sebagai peternak ayam yang rada aneh, juga dikenal sebagai peternak yang pantang nyembelih peliharaan sendiri, karena saking sayangnya.

Mendengar pertanyaanku itu, wajah mas Sarwani tiba-tiba diselimuti kesedihan. Tangannya yang sedari tadi sibuk mengupas jagung untuk pakan ayam, tiba-tiba membeku. Kemudian dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

“Nurul kena penyakit, Bay.” Jawabnya lesu.

“Penyakit apaan, mas?”

“Kanker.” Jawabnya lagi,  dengan suara yang jauh lebih lesu, hampir seperti orang yang lagi dicekik.

“Apah? Kanker!” Aku terheran-heran. Baru kali ini aku dengar kalo ayam juga bisa kena penyakit kanker.

“Kanker apaan, mas? Udah stadium berapa?” Tanyaku lagi.

Mata mas Sarwani masih berkaca-kaca. Di kesampingnya baskom yang dia pangku buat wadah bijih jagung.

“Bukan penyakit kanker yang sering kamu lihat di sinetron-sinetron atau FTV siang, Bay. Tapi ini penyakit kanker yang lebih parah dan berbahaya, alias penyakit kantong kering.” jawabnya.

Mendengar jawaban mas Sarwani itu aku cuman bisa mengernyit masam. Kalo kantong kering, mah, aku juga sering. Biasanya diakhir bulan.

“Mempunyai istri lebih dari satu itu berat, Bay. Apalagi bagi seorang pedagang seperti saya. Pendapatan tiap bulan itu nggak pasti, kadang lebih dari cukup, kadang kurang sekali. Bulan ini jualan greentea dan telor ayam saya kurang laku, Bay. Cuman cukup ngasih makan anak dan istri sampe nomer 3, yang 4 kurang uangnya buat beli lauk. Terpaksa, deh, Nurul bulan ini dijagal.” Ujarnya masih agak lesu.

“Tapi kenapa mesti Nurul, mas? Kan, mas pernah bilang kalo Nurul itu dulu hadiah ulang tahun dari istri mas yang paling tua, apa nggak sayang?” Tanyaku lagi.

Pertanyaanku ini berhasil membuat mas Sarwani meraung-raung. Tangisannya sangat keras dan semakin menjadi. Air matanya keluar bagaikan aliran ledeng PDAM. Aku jadi nggak enak sama mas Sarwani, sepertinya aku sudah membubuhkan garam laut ke lukanya yang bahkan belum kering.

Setelah 10 menit menangis dan berguling-guling di tanah hingga bajunya kotor, mas Sarwani dengan susah payah bangkit dan kembali duduk di teras.

“K-kemaren malam, saya mengadakan lotere ke seluruh ayam saya. Nama-nama ayam saya tulis di helaian kertas-kertas kecil yang digulung, kemudian dimasukkan kedalam toples. Secara acak saya ambil satu gulungan kertas, d-dan nama yang muncul a-adalah Nurul.” Ujarnya sambil sesenggukan.

Aku bisa merasakan kesedihan mas Sarwani yang mendalam. Mungkin, bagi sebagian orang, menyembelih ayam peliharaam merupakan hal yang sepele dan tidak akan menimbulkan efek kesedihan yang amat sangat seperti halnya ketika nonton sinetron Turki di stasiun TV swasta. Akan tetapi, mas Sarwani lain ceritanya. Cintanya yang teramat besar pada ayam-ayam peliharaannya membuat keputusan untuk menyembelih Nurul merupakan suatu hal yang menimbulkan luka batin yang sangat dalam.

Mas Sarwani tidak berkata sepatah kata pun lagi. Walaupun dia sudah berhenti menangis dan agak tenang, tapi tatapan matanya kosong. Mungkin dia sedang merefleksikan kekosongan hatinya karena Nurul sebentar lagi akan dihidangkan di meja makan.

“Sabar, mas. Semua kejadian itu pasti ada hikmahnya. Mungkin setelah ini, mas akan mendapatkan ayam baru yang jauh lebih cakep ketimbang Nurul.” Ujarku sambil menepuk lembut pundaknya.

Tidak ada respon dari mas Sarwani. Dia tetap duduk membatu sambil melihat ke tanah dengan tatapan matanya yang kosong. Kelopak matanya memerah dan sangat sembab, kantung matanya bahkan membengkak sampai hampir memenuhi pipinya.

“Ya sudah, mas. Saya pulang dulu kalo begitu. Mas Sarwani yang tabah, ya?” Ujarku pamit pulang. Aku pikir, mungkin mas Sarwani sekarang sedang memerlukan waktu untuk menyendiri. Selain itu, aku nggak mau membuat mas Sarwani lebih sedih lagi dengan pertanyaan-pertanyaanku yang konyol.

Perlahan aku meninggalkan pekarangan rumah mas Sarwani. Aku turut sedih melihat keadaan tetangga sekaligus sahabatku itu. Aku menyesali niatanku untuk meminta daging dada Nurul tanpa mempertimbangkan perasaan mas Sarwani yang sangat sayang sama hewan ternaknya itu. Aku hanya bisa berdoa dalam hati, semoga Nurul menjadi asupan gizi yang baik bagi istri dan anak-anak mas Sarwani, dan semoga mas Sarwani mendapatkan ayam pengganti yang lebih baik daripada Nurul.

Advertisements

2 Comments

Let's Discuss!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s