Kucing Itu Bernama Molly

Maret saya lalui tanpa memposting satu pun tulisan baru di blog ini. Bukan faktor malas, sih, tapi lebih karena bulan Maret merupakan bulan yang paling banyak memberikan saya pelajaran hidup. Mulai dari dompet yang hilang karena keteledoran sendiri, draft skripsi yang progresnya maju-mundur karena beberapa hal, koneksi wifi yang entah kenapa melambat bahkan di jam-jam dini hari, sampai laptop tua kesayangan yang hancur karena jatuh saat berkendara. Kejadian-kejadian yang tidak terduga ini membuat saya mau tidak mau harus sedikit membiarkan blog ini mengusam, meskipun sebenernya ada beberapa draft postingan untuk bulan Maret yang belum rampung dan sudah tidak relevan lagi.

Akan tetapi, bulan Maret juga bukan bulan yang melulu membuat saya stress. Bulan Maret memperkenalkan saya dengan Molly, seekor kucing rumahan ber-ras Persia yang hak asuhnya di ambil alih oleh Hida dari teman se-kostnya yang sudah terlalu sibuk untuk merawat hewan peliharaan. Pertama kali bertemu Molly, penampakannya tidak ada Persia-Persianya sama sekali. Badannya kurus, bulunya kusam dan rontok, seperti kucing lokal liar di jalan-jalan. Sama sekali tidak seperti kucing ras rumahan lain yang biasanya berbulu lebat, berbadan tambun, dan manja. Awalnya saya pesimis, dengan jadwal kerja Hida yang dari pagi sampai sore hari, apa bisa dia merawat kucing yang kondisinya tidak prima seperti ini? Jangan-jangan saya lagi yang disuruh ngerawat.

Benar saja, sore-sore Hida datang ke kosan saya dengan kandang besi berwarna merah jambu terikat di sepeda motornya.

“Bayu, tolong bantuin ngangkat ini dong!” Teriaknya dari bawah.

Saya yang lagi asyik-asyiknya bore, alias bobo sore, sontak terbangun dari mimpi indah ketemu Anna Kendrick. Ampun, mak! Hida itu kalo teriak kenceng banget. Saya pernah curiga, jangan-jangan dia itu semacam manusia mutan yang punya pita suara super kuat, macam Banshee.

“Iye, bentar!” Balasku masih setengah ngantuk.

Saya pun dengan gontai menuruni anak tangga ke lantai bawah. Terdengar suara mengeong tanpa henti dari dalam kandang itu. Suara ngeongan itu berasal dari seeokor kucing kurang gizi yang mempunyai corak bulu hitam putih.

“Ini, nih, yang namanya Molly?” Tanyaku sambil membantu Hida mengangkat kandang kucing yang lumayan besar itu ke lantai dua kosku.

“Iya, jelek, ya?” Balasnya.

Saya melengos. Peliharaan belum juga genap sehari diasuhnya, udah dihina-hina. Mungkin, kalo si Molly ngerti bahasa Indonesia, dia bakalan ngambek. 

Singkat cerita, jadilah si Molly penghuni baru di kamar kos saya. Ini merupakan kali pertama saya memelihara hewan, dan ternyata punya peliharaan itu benar-benar menyenangkan. Saya jadi merasa selalu punya teman yang bisa saya ajak main dan elus-elus. Apalagi Molly merupakan tipikal kucing yang aktif, dia selalu bersemangat mengejar-ngejar bola yang saya ikatkan dengan tali sepatu bekas.

Molly juga menjadi semacam alarm hidup bagi saya. Setiap hari, sekitar jam 5-an, Molly selalu menjilat-jilatin rambut saya. Aneh, kan? Tapi itu cara dia bangunin saya kalo dia lagi laper. Saya yang awalnya sering bangun siang dan bolos sholat shubuh, sekarang jadi mulai terbiasa bangun pagi dan rajin sholat shubuh.

Saya jarang sekali mengkandangkan Molly. Molly saya masukin kandang hanya ketika saya jemur tiap pagi, selebihnya saya biarkan dia berseliweran di kos-kosan saya. Kata Hida, pemilik Molly yang dulu suka ngandangin Molly seharian penuh karena ditinggal kuliah, padahal kucing bisa stress kalau di kurung dalam tempat sempit dalam waktu lama. Itu juga yang menjadi sebab kenapa saya nggak tegaan buat ngandangin Molly. Saya pingin dia bisa bebas menjelajah daerah sekitarnya dan tidak merasa terkungkung dalam ruang sempit yang tidak lebih dari 1 meter kubik luasnya.

Meskipun tidak terlihat se-menggemaskan kucing-kucing peliharaan lain yang sering dipamerkan dengan bangga oleh pemiliknya di event-event di Mall maupun Car Free Day, Molly berhasil mencuri hati saya dan Hida. Alhamdulillah, setelah satu bulan kami rawat, kondisi Molly jadi lebih mendingan. Meskipun masih kurus, tapi bulunya sudah lebat dan tidak rontok lagi. Poop-nya pun teratur dan nggak mencret lagi. Semoga Molly semakin sehat dan betah diasuh kami. Kalo Molly ngerti obrolan manusia, pengen banget ngomong sesuatu yang kayak gini ke dia:

“Molly, meskipun banyak yang bilang kamu bertampang kriminil, asalkan kamu sehat aja, kami udah seneng banget.”

Advertisements

Let's Discuss!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s