Pak Jonas Itu Baik Kok

Kamis pagi. Aku bangun dengan mata merah berkantung  dan rambut yang acak-acakan. 7 jam merevisi skripsi membuat wajahku nampak seperti mayat hidup. Dua hari lalu Pak Jonas memvonis kalo bab 4 skripsiku amburadul. Data, literature reference, dan tenses-nya dianggap perlu pembenahan kelas berat. Padahal, seluruh isi bab 4 itu aku kerjakaan sesuai arahan Pak Jonas sebelumnya. Tapi apa daya, protes pun aku tak berani. Pak Jonas bukan tipe dosen yang menganggap suara-suara protes sebagai bentuk kekritisan berfikir mahasiswanya, lebih seperti dengungan sayap nyamuk yang perlu dibasmi secepat-cepatnya.

Ponselku berbunyi. Icon amplop kuning kecil muncul di layar. Sebuah pesan singkat dari Fifi.

“Bay, kamu hari ini bimbingan nggak? Kalo iya, bareng yok? Aku malas ketemu Pak Jonas sendirian. Medeni.”

Aku tersenyum masam. Ada sebuah kelegaan tersendiri yang aku rasakan ketika mengetahui aku bukanlah satu-satunya yang punya masalah dengan sikap tangan besi Pak Jonas.

“Iya, aku bimbingan hari ini. Nanti ketemu di depan kantornya jam 10, ya?”

“Oke, Bay.” Balas Fifi nggak lama kemudian.

Aku melirik jam weker merah yang berdiri manis di atas meja belajar bututku. Masih jam 8 kurang, lebih dari cukup buat mandi, mencuci, dan menyantap semangkok bubur Bandung sebelum bertemu muka dengan dosen pembimbing ter-killer jam 10 nanti. Dengan santai ku raih handuk biru kesayangan, shampoo, sikat dan pasta gigi, mouthwash, pisau cukur, dan sabun wajah yang isinya paling tinggal sejempol.

Lengkap, kan? Perlu treatment sekelas salon kalau ketemu Pak Jonas. Beliau bukan hanya keras soal kualitas penilitian mahasiswa bimbingannya, tapi juga telaten memperhatikan penampilan luar mereka-mereka yang ditemuinya, khususnya dari kalangan mahasiswa-mahasiswi. Rambut nggak rapi? Keluar! Pake jeans? Temui saya kalau udah punya uang beli celana khaki! Pake kaos? Maaf mas, ini bukan pasar! dan sederet kata-kata pedas lainnya yang terlontar kalau ada mahasiswanya yang cukup khilaf masuk kantor Pak Jonas berpakaian casual. Nggak heran kalau anak kost yang biasanya mandi cuman pake sabun seadanya dan pencinta kaos oblong sejati seperti aku, tiba-tiba berubah parlente kalau ada janji ketemu beliau.

Puas membersihkan diri dan menjemur pakaian, aku meninggalkan kos-kosan dengan kemeja dan celana kain yang sudah ku setrika bolak-balik. Ku kerling layar ponselku, pukul 9 lebih seperempat. Aku masih punya waktu 45 menit untuk menikmati semangkuk bubur hangat tanpa tergesa-gesa.

Langkahku menuju warung bubur langganan terhenti saat ponselku berdering keras. Telpon dari Fifi. Nggak biasanya dia nelpon.

“Bay, kamu dimana? Cepetan ke kampus! Aku tadi di-BBM mbak Rendri, katanya Pak Jonas udah dateng. Dia marah-marah nanyain kok yang bimbingan belum pada dateng. Cepetan, yak! Aku udah OTW nih.”

Alamak jang! Gawat ini.

“Oke-oke, ini aku juga lagi dijalan ke kampus, see you there!

Ku tutup telpon Fifi. Ku pacu kakiku secepat-cepatnya, amarah dosen satu ini bisa disejajarkan dengan bencana alam nasional. Dampak merugikannya luas dan kemana-mana. Kalau Pak Jonas sudah berang, bimbingan skripsi yang normalnya cuman memakan waktu 30 menit bisa jadi dua jam setengah karena omelannya merembes ke aspek-aspek yang bahkan nggak ada sangkut pautnya sama dunia per-skripsi-an.

Aku sampai di depan kantor Pak Jonas dengan badan basah penuh keringat. Fifi sudah ada disana. Wajahnya pucat pasi, macam penderita penyakit anemia akut. 

“Bay, Bay, gimana ini, Bay? Aku takut ketemu orangnya.” Ujar Fifi sambil mengeluarkan map tebal merah muda dari tasnya. “Emang kamu kemaren janjinya ketemu jam berapa?”

“Jam 10, Fi. Makanya aku kaget pas kamu ngasih tau kalo bapaknya udah dateng. Marah-marah lagi. Aku juga takut.” Jawabku terengah-engah.

“Haduh, kok bisa sih Pak Jonas dateng awal terus ngiranya kita yang telat.”

“Mana ku tau. Kemaren juga si Elvan diginiin sama beliau, sambil marah-marah juga. Wong skripsinya sampe dilempar ke lantai gitu sama Pak Jonas.”

“Jangan nambah nakutin, Bay!” Ujar Fifi. Wajah pucatnya nampak makin pucat. Mata belo yang sering dibangga-bangganya pun mulai memerah dan berkaca-kaca.

Obrolan kami terhenti saat mbak Rendri, kaka tingkat yang sekarang menjadi asisten Pak Jonas, memanggil kami masuk. Degup jantungku semakin keras. Badan yang mulai kering kembali basah oleh keringat dingin. Ku tengok Fifi. Ketakutakan di raut wajahnya semakin menjadi. Dengan gentar kami melangkah masuk ke ruangan yang atmosfirnya terasa dingin dan gelap. Aku merasa seperti seekor hewan ternak yang digiring masuk kedalam ruang penjagalan.

“Assalamualaikum.” Kami mengucap salam hampir berbarengan.

“Walaikumsalam!” Jawab Pak Jonas cepat. Ada nada kesal di jawaban salam beliau.

Tidak ada respon lebih lanjut setelah itu. Kami terlalu takut untuk membuka mulut. Kami hanya duduk diam sambil memperhatikan Pak Jonas yang sibuk mengetik entah apa di laptopnya. Satu-satunya suara diruangan itu hanyalah dentuman sepuluh jari Pak Jonas yang beradu dengan tuts-tuts keyboard.

“Kalian menyadari salah kalian apa?” Pak Jonas memecah keheningan. Mata dan jari-jarinya masih sibuk berkordinasi di depan laptop 14 incinya.

“Maaf, pak. Dua hari lalu kan janji ketemunya jam..”

“Bukan masalah kamu telat apa tidak!” Bentak Pak Jonas sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Pak Jonas menutup laptopnya dan memberikan ku sebuah tatapan tajam. “Saya marah karena kalian belum berdedikasi pada penelitian kalian! Mahasiswa yang berdedikasi akan datang lebih awal, bahkan lebih awal dari saya! “

Aku menunduk, “iya, pak. Maafkan kami.” Jawabku pelan.

Sebuah alasan untuk marah yang aku anggap terlalu sepihak. Kami nggak telat, loh. Hanya sedikit lebih lambat dari dosen yang datangnya kelampau awal. Sejak kapan itu menjadi ciri-ciri ketidak berdedikasian seseorang? 

“Pokoknya saya tidak mau tau. Kalau kejadian seperti ini terulang lagi, silahkan ke jurusan untuk mengurus pengalihan ke pembimbing baru!” Ucap Pak Jonas lagi, masih dengan intonasi keras.

“Iya, pak. Sekali lagi maaf.” Jawabku lirih. Otakku tidak bisa merangkai kalimat lain selain menggunakan kata iya dan maaf. Ku lirik Fifi yang sedari tadi diam seribu bahasa. Gaya duduknya sama, khas orang yang dimarahi, kepala menunduk dengan tulang belakang agak dibungkukkan.

Pak Jonas menghela nafas panjang. Dahinya sudah nggak mengkerut lagi. Mungkin tanda tekanan darah tingginya sudah mulai stabil. Beliau menggeser laptopnya kepojok kanan meja. “Ya sudah, Bayu dulu. Saya mau melihat hasil revisian kamu.”

Ku keluarkan lembaran kertas setebal hampir 40 halaman dari dalam ranselku. Dengan tangan yang masih gemetar, aku serahkan skripsi setengah jadi itu. Pak Jonas langsung asyik membolak-balik lembaran demi lembaran sambil sesekali mengerutkan dahi. Entah karena skripsiku ada yang salah, atau karena rasa gatal di dahinya.

“Sudah bagus. Table dan input datanya sudah benar. Penulisan referensinya juga sudah seperti yang saya arahkan. Lanjut bab 5. Minggu depan ketemu saya lagi.” 

Plong! Rasanya seperti ngeluarin hajat yang seminggu terperangkap dalam perut. Aku nggak bisa menyembunyikan senyuman lebar di wajahku. Prosesku menuju wisuda maju satu langkah.

“Fifi, revisinya?” Tanya Pak Jonas.

Fifi yang sudah mulai tenang menyodorkan lembaran skripsinya. Wajahnya tidak sepucat tadi, meskipun kilapan air matanya terlalu terang untuk tidak disadari. Pak Jonas kembali sibuk membolak-balik lembaran-lembaran kertas di depannya sambil sesekali memberikan coretan-coretan kecil dengan pulpen merah. Dahinya lagi-lagi dikerut-kerutkan, gatel pak? Pingin sekali aku menawarkan bantuan menggaruk dahinya kalo memang lagi gatal. Tapi, itu pasti nggak sopan.

“Ada yang harus direvisi lagi. Tapi hanya sedkit saja. Hanya perlu ditambahkan beberapa referensi dan lain-lain. Lihat coretan saya untuk lengkapnya. Sudah saya jelaskan gamblang disitu.” Ujar Pak Jonas, mengembalikan skripsi ke pemiliknya yang sekarang sudah bisa senyum lagi.

“Terima kasih, pak.” Ucap Fifi.

Setelah memastikan jadwal bimbingan minggu depan, kami pun pamit pulang. Tidak seburuk yang aku bayangkan, bimbingan hari ini masih aku kategorikan mulus, meskipun tadi sempat kena damprat juga. Baru beberapa jengkal beranjak dari tempat kami duduk, Pak Jonas memanggil ku.

“Bayu, tunggu sebentar.” Pak Jonas menhampiri kami sambil membawa sebuah jam tangan. “Saya lihat kamu tidak punya jam tangan. Ini simpan saja, jam tangan ini sudah jarang saya pakai. Gunakan untuk mengatur waktumu. Jangan telat lagi!”

“M-makasih, pak.” Jawabku. Meskipun sebenarnya agak nggak terima dibilang telat.

Tanpa berkata apapun lagi, Pak Jonas langsung membalikkan badan. Beliau kembali  mengetik tanpa menghiraukan kami yang setengah terperangah. Pak Jonas ngasih jam? Dosen yang dikenal killer itu ngasih aku jam?

Fifi kemudian berbisik, “Pak Jonas ternyata baik, Bay.”

Aku tersenyum, dan kali ini bukan sebuah senyuman masam. Senyuman kekaguman pada seorang pendidik yang dibalik ketegasan dan ke-egoisannya, tersimpan kasih sayang dan niatan tulus untuk menjadikan anak-anak didiknya individual yang berkualitas. Aku baru sadar itu.

Advertisements

10 Comments

  1. Emang banyak orang bilang dosen kiliier karena kitanya gak bisa menempatkan diri, kalau sudah tahu slaknya malah bisa jadi sahabat.

  2. Jadi inget pas bimbingan skripsi 2 tahun lalu. Pas uda ACC bab IV dosen pertama, dosen kedua minta ganti judul. Habis itu kayak putus asa tidak jadi lulus 3,5 tahun dan mogok nyekripsi sebulan. Untungnya judul kedua lancar aman damai, dan akhirnya bisa lulus bulan Mei. Salam kenal, saya alumni UMM angkatan 2010.

        1. Saya jarang nemu blogger dari kampus, mbak. Sering banget dulu meracuni temen-temen sekelas buat bikin blog juga, tapi yang minat masih sedikit. Saya juga mikirnya sama, pasti seru kalo ada komunitas blogger UMM gitu, apalagi bagi yang udah alumni, bisa sharing cerita lucu, ilmu, pengalaman kerja atau sekedar bertukar ide. Nggak cuman melulu di sosmed.

Let's Discuss!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s