Kenapa Saya Benci Emoji

Semua pengguna ponsel pintar yang berbasis Android, iOS, Windows Phone, dan lain-lain, pasti udah nggak asing lagi sama serangkaian wajah kecil kuning yang bernama emoji. Bukan hanya sekedar mengenal, emoji sudah menjadi bagian yang nggak terpisahkan dari kehidupan bersosial media.

Nama emoji berasal dari bahasa Jepang 絵文字 (emoji) – yang kalau dijabarkan lebih rinci lagi: 絵 (e) yang artinya picture dan 文字 (moji) yang artinya character – kalo mencari istilah yang equivalent dalam bahasa Inggris, emoji bisa diartikan sebagai pictograph. Emoji diciptakan oleh Shigetaka Kurita, seorang karyawan sebuah perusahaan operator seluler di Jepang, pada tahun 1998. Shigetaka Kurita mengambil inspirasi bentuk-bentuk karakter emoji dari simbol-simbol yang digunakan dalam prakiraan cuaca di televisi, manga, dan dari hasil observasi ekspresi emosional orang-orang di daerah perkotaan.

I hate Emoji Image Post

Emoji yang mulanya hanya berbentuk ASCII Emoticon menjadi sangat populer dan terus berkembang hingga menjadi karakter-karakter wajah kecil berwarna kuning seperti yang kita kenal sekarang ini. Kedudukan emoji sebagai bagian integral dalam kehidupan bersosial media memang sudah nggak bisa dipungkiri lagi. Mau tua, muda, pelajar, karyawan, office boy, vokalis band melayu, anggota boyband, bos batubara, Kamen Rider Ghost, Den-O, Gaim, Decade, Akibaranger, Gokaiger, Kyoryuger, Hatsune Miku, Gavan, Shaider, Sarivan, Jiban, siapapun yang memiliki ponsel pintar pasti pernah menggunakan emoji. Tapi, nggak semua orang merasa nyaman ketika melihat ada wajah kuning tertawa di akhir pesan yang mereka terima, salah satunya saya.

Sebelum terjadi judge-men-judge, saya perlu klarifikasi dulu kalau saya bukannya membenci pengguna sosial media yang suka menggunakan emoji. Saya hanya nggak suka tindakan menggunakan emoji secara berlebihan. Pernah nggak ada temen, sodara, atau sekedar orang asing yang ngajakin kenalan di Facebook ngirim pesan ke kamu yang isinya cuman nanyain apa kabar doang tapi diikutin sama 10 emoji dari berbagai kategori yang nggak ada sangkut pautnya sama pesan yang dikirim? Itu bikin sakit mata. Kasian mata saya, minusnya udah diatas 3.

Selain itu, ada beberapa hal yang membuat saya enggan menggunakan emoji. Enggan, loh, bukan berarti nggak sama sekali. Cuman sesekali doang kalo lagi pingin ngirim instant message ke seseorang yang baru saya kenal, biar nggak dibilang ketus, itu juga hanya sekedarnya aja. Kembali ke topik awal, alasan-alasan kenapa saya nggak suka emoji adalah:

Saya Awam Emoji

Emoji Post

Ada 840-an karakter emoji yang sudah secara otomatis ter-download di ponsel-ponsel pintar yang men-support emoticon populer ini. Jujur aja, dari 840 icon emoji yang ada, hanya sekitar 10 emoji yang saya tau artinya. Itu pun kadang masih suka susah milih emoji mana yang paling cocok buat menggambarkan ekspresi lagi sedih, senang, tertawa, atau menangis.

Saya pernah ngirim pesen ke temen di WhatsApp, ngajakin berenang di daerah Dieng, Malang. Tau nggak balesan apa yang saya dapatkan? Sebuah emoji berbentuk ikan pesut yang nampaknya sedang melompat dari bawah air. Itu apa coba artinya? Setuju ikutan berenang, apa mau nyoba peruntungan jadi pawang lumba-lumba di Jatim Park? Whatever happens with regular reply like: yes, count me in! Atau, oke, aku ikut bro?

Belum lagi kalo ngadepin pacar yang lagi ngambek di sosmed. Kalo misalnya ditanya, “kamu kenapa, kok tadi cemberut?” Seringkali balesan yang saya dapet bukan berbentuk kata-kata yang dengan gamblang menjelaskan kenapa mood-nya buruk, tapi malah sederet emoji dengan wajah mengernyit, keluar air mata, kuping berasap, dan sebagainya. Ini orang lagi marah, atau lagi tersiksa karena sembelit? Respon seperti apa yang mesti saya berikan buat ngebales pesan yang kayak gini?

Tampilan Emoji Itu Nggak Universal Sama Persis

Tau nggak kalau ada beberapa karakter emoji yang terlihat sama sekali berbeda pada beberapa smartphone? Ketika berkirim emoji dari hape yang sistem operasi Androidnya sudah di otak-atik kayak Samsung ke iPhone, atau dari iPhone ke Samsung, atau dari hape yang masih menggunakan OS stock Android, ada beberapa emoji yang penampakannya rada beda, ini berpotensi menimbulkan kesalah pahaman.

Emoji Post 2

Misalnya saya – pengguna smartphone yang karakter emoji-nya masih menggunakan emoji default dari google – ngirim emoji yang ekspresinya marah ke temen saya yang make iPhone, emoji yang nampak di smartphonenya malah kayak orang lagi nyengir-nyegir. Sama sekali berbeda dari apa yang saya maksudkan Nggak lucu kan kalo pesan saya yang isinya marah-marah, malah terkesan kayak lagi nggak serius.

Dan yang terakhir,

Emoji Mengurangi Keindahan

Sebagai seorang penikmat kerapihan sebuah kalimat, atau paragraph, saya kurang suka kalo ngeliat ada tulisan yang dicampur baurkan sama emoji yang terlampau banyak. Sebuah kalimat, atau paragraph, yang dirangkai dengan menggunakan jenis huruf yang se-kece apapun akan berkurang ke-kece-annya kalau dikombinasikan dengan emoji yang bejibun. Emoji yang ukurannya bisa berkali lipat lebih besar dari sebuah karakter huruf, tergantung jenis font-nya, bakalan ngerusak line spacing yang sudah diatur dengan indah secara simetris.

I hate Emoji Image Post 2

Sebenernya sih, saya nggak merasa terganggu membaca tulisan-tulisan yang memasukkan karakter emoji di beberapa kalimatnya, asal jangan terlalu banyak dan emoji yang digunakan emang bisa merepresentasikan aspek emosional dari kalimat tersebut. Tapi, kalo udah ketemu sama postingan – baik itu di blog atau update-an pendek di sosmed – yang penulisnya suka banget naruh emoji di segala penjuru sudut kalimat, itu yang bikin mata saya lelah. Selain itu, saya juga jadi nggak bisa fokus membaca karena ada kepala-kepala kecil kuning tak berbadan, yang meskipun kelihatan sedang senyum ceria, tapi bikin paragraphmu jadi nampak seperti settingan film horror slasher. Dimana-mana ada kepala buntung.

Meskipun penggunaan emoji di-era digital seperti sekarang ini sudah lumrah dan nggak terpisahkan, tetep aja emoji nggak bisa dijadiin pengganti kalimat-kalimat yang ditata dengan baik. Terlebih lagi, nggak semua orang ngerti arti dibalik emoji-emoji itu. Contohnya saya.

Ada baiknya membatasi diri kalo mau memakai karakter-karakter emoji. Emang sih, emoji itu lucu-lucu, imut, ngegemesin, unik, bikin kelihatan gaul, luar biasa, fantastis, bombastis, dan lain-lain. Tapi, kalo icon-icon lucu ini dipakai kelewat batas, maka niat awal kamu pengen kelihatan gaul malah bakalan bikin kamu dibilang alay. Too much of anything is good for nothing.

Advertisements

15 Comments

  1. Bener juga sih. Aku sering bingung chat sama orang yg bahasnya apa emotnya juga apa. Ternyata emang tampilan emot di Android sama iOS itu beda banget. Dan itu bisa menimbulkan kegagalan dalam berkomunikasi.

  2. Benci sama pemakai yang ga bener jadi mas, bukan sama emot nya. Tapi emot kesanya juga simple aja sih daripada ditulis ‘wkwkwkwkwkwkkwwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk’ kan, lebih baik emot.

  3. Waduh, baru kali ini tau ada orang nggak suka emoji. Kalau emoticon tanpa si kuning gimana mas? Apa masih benci? Ngomongin kerapihan, aku justru pakai emoji buat kerapihan hehe. Kalimat di Line iOS entah kenapa suka banget menggantung satu kata aja di baris akhir. Nah, kadang aku kasih satu emoji deh biar kelihatan lebih full. Emang capek kalau harus pakai emoji yg benar2 sesuai. Pakai yg umum aja lah biar nggak terjadi misscom. Tapi, kadang emoji membantu banget lho buat meng-clear-kan maksud. Kadang kita nulisnya biasa aja, eh penerima bacanya pakai nada sewot. Berantem deh akhirnya.

    Ditunggu kunjungan baliknya ya 🙂

Let's Discuss!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s