Tentang Diet Oatmeal

Dulu, aku mempunyai bobot badan yang berlebih. Dengan tinggi badan yang hanya sekitar 167 sentimeter, beratku hampir mencapai 100 kilogram. Awalnya sih, aku nggak terlalu ambil pusing sama berat badan. Aku ngerasa sehat dan kelebihan bobotku tidak terlalu menjadi kendala buatku dalam beraktifitas sehari-hari, meskipun lingkar pinggang tiap bulannya pasti nambah. Makanan apapun aku santap, mulai dari gorengan, makanan manis, sampai minuman bersoda sudah menjadi menu yang nggak bisa aku tinggalin tiap harinya.

Tapi pola pikirku berubah sejak banyak anggota keluargaku yang di-diagnosa terkena penyakit diabetes. Aku pernah membaca salah satu artikel di internet kalau diabetes itu merupakan penyakit turunan, dan seseorang mempunyai resiko terkena diabetes 8 kali lebih besar apabila ada riwayat keluarganya yang juga terkena penyakit kelebihan gula darah ini. Aku jadi takut. Dengan pola makanku yang tidak tahu aturan, terlebih lagi aku gemar makanan berlemak dan manis, tentu resikoku terkena penyakit berbahaya ini jauh lebih besar lagi.

Dari penjelasan dokter yang menangani kasus diabetes keluargaku, salah satu faktor utama penyebab diabetes adalah berat badan yang tidak terkontrol. Jleb! Aku ngerasa seperti ditusuk pisau. Jujur aja, penjelasan dokter itu membuatku takut. Dengan berat berlebih dan pola makanku yang tinggi gula dan lemak selama ini, mungkin aja tanpa aku sadari, aku sudah menjadi seorang penderita diabetes. Ketakutanku ini membuatku bertekad untuk diet.

Ternyata diet itu nggak gampang. Sering kali aku gagal dan kembali tergoda untuk mengkonsumsi makanan-makanan yang manis dan berlemak. Diet plan yang kurang baik menjadi alasan kenapa aku nggak pernah bisa konsisten dengan program dietku ini. Pernah dulu aku cuman makan sekali sehari, itupun dengan porsi yang sudah jauh dikurangi. Karena makan dengan porsi yang sangat sedikit, aku jadi tidak bisa mengontrol rasa laparku yang akhirnya membuatku balas dendam dengan memakan makanan-makanan yang aku hindari dengan porsi yang besar. Hal ini terjadi berulang-ulang. Bukannya kurus, berat badanku malah semakin bertambah.

Sampai suatu hari, saat aku berbelanja keperluan bulanan di mini market, aku melihat bungkusan oatmeal instan. Kebetulan disamping aisle-nya, ada banner gede yang berisi informasi manfaat mengkonsumsi makanan olahan dari gandum ini. Khasiatnya banyak banget, mulai dari mengurangi tekanan darah tinggi, mencegah kanker, menangkal radikal bebas, meningkatkan sistem tubuh, menurunkan kolesterol, dan menstabilkan gula darah! Nah, khasiat yang terakhir ini yang membuatku mantap buat nyoba makan oatmeal.

Pertama kali mengkonsumsi oatmeal, aku muntah. Lidahku yang terbiasa dengan makanan yang kaya rasa menolak untuk menelan oatmeal yang hambar. Belum lagi aroma khas oatmeal yang, jujur aja, sama sekali nggak mengundang selera makan. Awalnya, aku pikir itu hanyalah sugesti belaka, karena aku memang tidak terbiasa makan oatmeal. Tapi, setelah tiga hari berturut-turut mencoba memasukkan bubur gandum ini ke dalam perut, hasilnya tetep sama dan bahkan bisa dibilang lebih parah. Jangankan makan, mencium baunya saja sudah bikin aku eneg. Pernah juga mencoba mencampur oatmeal dengan susu dan madu, namun efeknya nggak terlalu terasa. Rasa khas oatmealnya masih dominan dan tetap bikin eneg.

Pengalaman yang kurang menyenangkan ini bikin aku kapok makan oatmeal, sebungkus oatmeal yang masih penuh itupun aku diamkan saja dalam toples. Aku sudah putus asa untuk diet lagi. Lagian, belum tentu juga aku kena diabetes. Kan cuman resiko, belum diagnosa pasti. Mungkin aja aku termasuk dari segelintir orang yang beruntung lolos dari penyakit kencing manis yang menakutkan ini.

Beberapa minggu kemudian, seorang temenku yang juga sedang menjalani program penurunan berat badan menyarankanku untuk mengkombinasikan oatmeal dengan lauk ikan atau ayam, jadi seperti menu makan biasa, hanya saja nasinya diganti dengan oatmeal. Awalnya aku skeptical, nggak percaya kalo oatmeal bisa jadi enak meskipun dicampur apapun juga. Tapi, setelah mencicipi bekal oatmeal yang dicampur dengan suiran daging ayam panggang dan perasan jeruk nipis, aku jadi tergoda untuk mengkonsumsi oatmeal lagi. Bekal oatmeal yang dibawa temenku itu ternyata cocok dengan lidahku, rasanya jadi seperti bubur ayam dan sama sekali nggak bikin eneg, apalagi mual.

Aku jadi rajin bereksperimen memasak oatmeal. Kadang aku nyoba maken oatmeal pakai sup jamur, dada ayam yang dipanggang, tempe bakar, bahkan aku pernah mencoba mencampur oatmeal dengan saus kacang. Dan hasilnya tidak mengecewakan, sensasi eneg yang aku dapat saat awal-awal mencoba makan oatmeal sudah tidak muncul lagi. Oatmeal menjadi makanan pengganti nasi yang lezat dan sehat.

Selain itu, setelah aku dengan konsisten mengkonsumsi oatmeal, nafsu makanku jadi terkontrol. Oatmeal itu benar-benar bikin perut kenyang untuk waktu yang lama. Makan semangkuk saja bisa menganjal perutku hingga sore. Aku yang dulunya setiap saat harus ngemil, sekarang sudah bisa melewati hari tanpa harus membeli keripik kentang kesukaan. Metabolisme tubuhku juga jadi bagus, aku nggak pernah lagi ngalamin yang namanya sembelit dan problem pencernaan lainnya. Aku juga jadi nggak mudah ngantuk, masuk kelas siang pun aku masih penuh energi dan mudah fokus memperhatikan materi yang diberikan dosen.

Dan yang paling penting, goal dietku tercapai! Selama hampir 8 bulan menjalani diet oatmeal ini, bobotku turun 35 kilogram. Berat badanku yang awalnya 98 kilogram, sekarang stabil di angka 63 kilogram. Badan jadi terasa ringan, nggak gampang capek, dan perutku udah nggak buncit lagi. Meskipun lemari baju harus dirombak habis karena udah pada kebesaran dan nggak mungkin lagi dipakai sehari-hari. Baru-baru ini, aku melakukan check-up kesehatan di rumah sakit. Alhamdulillah, gula darah, tekanan darah, kolesterol, semuanya normal. Nothing makes someone happier other than knowing he/she in a good shape.

Emang sih, awal-awal mencoba makan oatmeal itu nggak enak, bikin eneg, dan mual. Tapi, kalo bisa menemukan kombinasi makanan pendamping yang pas, oatmeal pun akan terasa enak di lidah. Oatmeal bisa dikresikan jadi cake, waffle, biskuit, smoothies, omelette, bahkan ada yang membuat pizza dengan bahan utama oat. Tergantung selera masing-masing dan kreatifitas dalam menyajikannya. Nah, kalau sudah dapet resep yang pas dengan selera, mengkonsumsi oat nggak akan jadi beban lagi dan manfaat kesehatannya pun akan bisa dirasakan. I am the living proof of that.

Advertisements

Let's Discuss!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s